IQ dan Keberhasilan Hidup, Adakah korelasinya?

Tahun 1921. Dr. Lewis M. Terman, seorang psikolog dan pelopor tes kecerdasan, mengukur IQ (Intelegence Quotient) anak sekolah-sekolah di California. Hasilnya, 1521 anak nilai IQ-nya 135 atau lebih berdasarkan tes terbarunya, Staford-Binet.

Anak-anak jenius Dr. Terman—ketika penelitian berlangsung mereka menamakan diri Termites—sekarang sudah berumur 80 tahunan dan mereka selalu dihubungi para peneliti setiap lima sampai 10 tahun. Penelitian itu memang penelitian dengan obyek seumur hidup.

Dalam dunia ilmu sosial, penelitian longitudinal menjadi satu metode untuk mengungkapkan misteri tahapan hidup. Penelitian seperti itu memungkinkan para peneliti menganalisis sekelompok orang selama bertahun-tahun dan bisa mengurai hubungan antara sebab dan akibat yang tersembunyi atau sering kali tidak jelas yang tidak tercakup dalam penelitian lainnya.

“Hanya dengan mengikuti hidup orang bertahun-tahun, manusia bisa secara akurat melacak hubungan sifat awal atau pengaruh pada perkembangan selanjutnya”, kata Dr. Anne Colby, psikolog dari Murray Research Center, Radcliffe College. Radcliffe adalah tempat penelitian longitudinal paling besar di Amerika Serikat.

Penelitian Terman, termasuk yang pertama mengamati orang dalam jumlah banyak mulai dari masa kecil sampai orang tua, masih terus menghasilkan pandangan baru mengenai tahapan hidup. 

Salah satu kontribusinya adalah tentang pengaruh IQ pada kesuksesan hidup.

Ternyata, kecerdasan bukanlah satu-satunya ukuran untuk mencapai suatu prestasi yang luar biasa. Tahun 1968, Melita Oden, peneliti rekan Dr. Terman, menerbitkan hasil penelitian pada 100 Termites lainnya yang karirnya terperosok.

Mereka yang berhasil, ditandai dengan huruf A, bekerja di bidang hokum, kesehatan, atau menjadi guru besar di universitas atau menjadi eksekutif di bidang bisnis. Kelompok yang kurang berhasil, ditandai dengan huruf C, antara lain menjadi pelayan di toko yang jauh di bawah tingkatan intelektual mereka.

Kelompok A, memiliki angka IQ rata-rata tujuh angka lebih tinggi dibandingkan kelompok C, yaitu 157 banding 150. Perbedaan angka yang kecil pada tingkatan IQ yang tinggi itu sendiri sebenarnya tidak menunjukkan perbedaan kemampuan secara nyata.

Akan tetapi, ada perbedaan utama yang lebih mempengaruhi keberhasilan mereka, yaitu motivasi. Kelompok A sejak awal menunukkan motivasi lebih kuat untuk maju, mereka juga melompat kelas dalam pelajaran tata bahasa lebih banyak, dan meneruskan pendidikan lebih jauh dibandingkan kelompok C. Sebagai anak muda, kelompok A lebih lincah, lebih bersemangat, dan lebih sibuk dibandingkan kelompok C.

Mungkin alasan yang lebih tepat yang membedakan keberhasilan karier, adalah ciri pembawaan atau sifat dan karakter. Sejak kecil, kelompok C sudah menunjukkan kurang berjuang untuk mencapai tujuannya, baik dalam sekolah maupun bekerja. Sementara kelompok A, sekitar umur 11 tahunan, menunjukkan motivasi yang tinggi, ketekunan, dan keinginan kuat melebihi yang lain.

Artinya, kepandaian saja tidak cukup untuk menentukan keberhasilan hidup. Peranan motivasi tidak dapat diabaikan dan ini memberi peluang untuk meraih sukses tanpa perlu memiliki IQ luar biasa.



Tidak ada entri.
Tidak ada entri.